Jika Anda Mengenal Dia

Jika Anda Mengenal Dia

Pagi-pagi sekali Tuhan berbicara dalam hati saya, melalui satu nyanyian yang selama bertahun-tahun biasa saya nyanyikan:

‘Jika engkau kenal Dia, engkau akan mengasihi Dia sebagaimana juga yang dilakukan oleh orang lain; Satu hari yang bahagia akan muncul bagimu, jika engkau juga kenal Yesusku.’

Ini berbicara mengenal keselamatan dan hal-hal selanjutnya. Salah satu bait berikutnya berbunyi:

‘Engkau akan tahu jalanNya adalah selalu yang terbaik, dan dengan bersuka engkau telah memasrahkan segala sesuatunya …’

Ini merupakan penyerahan yang sungguh-sungguh nyata, suatu kemajuan di dalam Mengenal Allah.

A Persekutuan

Di dalam kehidupan biasa ada banyak tingkatan persahabatan dan persekutuan. Dengan beberapa orang kita hanya ‘sekadar kenal sahaja.’ Itulah kadar dari persahabatan, sampai di situ sahaja. Dengan tetangga atau dengan relasi usaha persahabatannya mungkin lebih mendalam, tetapi masih hubungan biasa dan tidak menerangkan. Kemudian kita memiliki sahabat-sahabat.

Di dalam beberapa persahabatan nampak hanya satu pihak di mana seorang merasa bahawa dia memberi terlalu banyak. Ini bukan hubungan yang dekat, tetapi satu langkah menuju sahabat-sahabat menerangkan kita; yaitu kepada mereka yang kita merasa bebas untuk mengutarakan beban hati kita, dan menyampaikan suka duka kita. Inilah yang disebut sebagai persahabatan yang menerangkan.

Kembali kepada analogy kita, keselamatan adalah sesudah berkenalan dekat dengna Yesus. Meskipun hal itu sangat indah, tetapi ia baharu pintu 2 Petrus 3:18 mengatakan … bertumbuhlah dalam kasih rahmat dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.’

Perjalanan dengan Allah ini selalu berkembang, maju selangkah demi selangkah. Kehidupan Kristian adalah suatu pertumbuhan, dan kita tidak dapat bertumbuh dalam satu malam! Sebagaimana kita bertumbuh dewasa secara jasmani, begitu juga secara rohani. Kita harus terus bertumbuh dna berjalan maju dengan Allah.

Banyak yang menghadiri kebaktian gereja dewasa ini kenal Yesus hanya seperti kenalan begitu saja. Tetapi bukan itu yang merupakan kerinduan hatiNya. Dia merindukan suatu persahabatan yang erat. Sangat menakjubkan jika kita pikirkan bahwa Tuhan yang penuh kemuliaan itu menginginkan persekutuan, tetapi sejak permulaan dari Adam dan Hawa Dia dating dan berjalan dengan mereka di saat yang sejuk. Itulah sebabnya kita diciptakan bagi Dia dan untuk kesukaanNya – dan itu pula yang masih merupakan kehendakNya sampai hari ini. Dia menjumpai banyak orang yang hanya ‘kenal begitu sahaja,’ tetapi saya kira Dia tidak menjumpai banyak sahabat yang dapat Dia curahkan isi hatiNya.

Hubungan yang sedemikian dengan Yesus berasal dari menunggu di hadiratNya disertai keinginan yntuk mengetahui apa yang Dia senangi, dan bukan hanya menceritakan semua kebutuhan kita kepadaNya. Memang Dia juga memperhatikan hal itu dan Dia mendorong kita untuk mengutarakan semuanya, tetapi Dia juga ingin kita mendengarkan apa yang di dalam hatiNya.

Persahabatan harus timbal-balik! Bukan sesuatu yang menyengkan jika yang seorang selalu memberi dan yang lain hanya menerima sahaja. Itu bukan meruupakan persahabatan yang benar. Tuhan menghendaki agar kita bertambah-tambah di dalam Mengenal Dia, supaya kita dapat menerima dari Dia, sebagaimana juga memberi pada Dia.

Proses untuk belajar ‘mengenal Tuhan; adalah sama dengan apa yang kita lakukan terhadap teman-teman kita dalam persahabatan sehari-hari. Kita mengadakan waktu satu dengan yang lain; kita saling mempertimbangkan reaksi satu dengan yang lain baik atau buruk, dan melalui cara inilah persahabatan itu berkembang. Kita mengadakan waktu bersama. Kita mengamati reaksi masing-masing dalam berbagai keadaan.

Kita belajar mengerti watak masing-masing, dan kita mencari hal-hal apa yang merupakan kesukaan atau kesenangan bersama. Peribahasa yang mengatakan, ‘senang sama senang dapat seiring-sejalan’ seringkali benar juga.

Salah tafsir ataupun salah pengertian dapat terjadi sebagai akibat dari pengenalan yang dangkal. Jika kita tidak mengenal seseorang dengan baik kita dapat menarik satu kesimpulan yang lain. Saya sering melalukan hal tersebut, dan hal itu sangat menyedihkan dan membuat saya menyesal.

Sangat mudah untuk membuat kesimpulan salah atau tidak adil mengenai seseorang jika kita tidak mengenal dia dengan baik. Di pihak lain, ada juga masanya di mana saya banyak mendengar desas-desus mengenai seseorang yang saya kenal dan kasihi deengan sungguh-sungguh. Saya dapat dengan segera membelahnya dan siap sedia untuk mengatakan bahawa, ‘Apa yang kalian katakana itu tidak benar. Mereka tidak mungkin mengatakan ini ataupun berbuat itu.’

Mengapa? Kerana saya tahu bahawa itu bukan hal-hal yang biasa mereka lakukan. Orang lain mungkin melihat sesuatu dan sudah salah tafsir. Jika saya dipanggil di pengadilan untuk memberikan kesaksian maka pertama-tama yang akan ditanyakan pada saya adalah: ‘Sudah berapa lama anda kenal orang itu, dan berapa jauh anda mengenalnya?’

Jawaban anda sangat penting dan diperlukan sehingga hakim dapat tahu apakah pendapat atau kesaksian kita benar-benar sah dan dapat diterima. Jika hanya secara kebetulan sahaja, saya kenal, maka hakim akan berkata: ‘Terima kasih banyak, tetapi kami akan mencari seseorang yang mengenal dan mengetahui orang itu dengan lebih banyak.’

Sangat disayangkan bahawa ‘secara kebetulan sahaja kenal’ adalah keadaan yang banyak dialami oleh kita dalam hubungan kita dengan Allah.

Allah sudah menantang dan memberikan beban di dalam hati saya bagi kita semua untuk melangkah lebih jauh, dengan suatu kerinduan yang dilahirkan dari Roh, untuk Mengenal Dia – mengenal Dia sehingga kita tidak salah mengertikan apa yang Dia katakana.

  1. Persahabatan

Persahabatan itu timbal-balik. Tuhan kita adalah Sahabat kita; tidak perlu ditanyakan lagi hali itu. Dan Dia menghendaki agar ersahabatan itu timbal-balik. Dia menghendaki agarkita m[enjadi sahabatNya dan membalas persahabatanNya. Hal ini dengan jelas digambarkan di dalam Kejadian 18: 16 – 33, di mana Abraham dipanggil sebagai “sahabat Allah.”

Allah sudah memutuskan untuk membinasakan Sodom dan Gomora untuk memusnahkan dalam sekejap praktek-praktek kejahatan yang mereka lakukan.

Dia dan Abraham sedang mengadakan perjalanan keluar dan Dia bermaksud untuk memberitahukan rencanaNya kepada Abraham (Kej. 18:17). (Allah masih tetap memberitahukan rahsiaNya kepada sahabat-sahabatNya. Di dalam Perjanjian Baru, Yesus berkata kepada murid-muridNya “… Aku tidak lagi menyebutmu hamba, tetapi sahabat, kerena Aku akan memberitahukan kepadmu apa yang akan terjadi di masa depan.” Di dalam Kejadian 18, prinsip ini sudah diterapkan untuk Abraham).

Tuhan berkata kepada Abraham “… Aku akan membinasakan Sodom dan Gomora.” Segera saja terjadi suatu percakapan timbal-balik. Abraham bukan hanya mendengarkan. Dia merasa bebas sebagai sahabat Allah, untuk menyatakan pendapatnya juga. Dan hal ini merupakan persahabatan yang benar! Ada timbal-balik, saling bergantian, di mana tidak ada yang menguasai pembicaraan sendiri dan yang lain hanya mendengarkan. Abraham merasa bebas untuk mengemukakan pendapat terhadap Sahabatnya dan dia bertanya kepada Tuhan, apa yang akan Dia lakukan seandainya didapati 50 orang saja, atau 45 yang benar di dalam kota itu, atau 40, atau 35, atau 25, atau 20 atau 10?

Perhatikan ayat 25: “Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” Abraham mengetahui bahawa Sahabatnya akan menghukum dengan adil! Dia hanya dapat menyebut Allah sebagai Allah yang adil. Dari situ kita dapat melihat adanya sukacita yang tak terkatakan, yang saling dibagikan dalam persahabatan Abraham dengan Penciptanya, allahnya dan Sahabatnya.

 

Mrs Audrey Bailey

dalam Hidup Kristus, Vol 2, No 1

Recent Posts

Start typing and press Enter to search